Rock Paper Scissors Lizard Spock
Anda tahu permainan “Rock Paper Scissors”? Permainan tangan yang dimainkan dua orang atau lebih dengan mengadu karakter yang disimbolkan oleh oleh si pemain. Permainan ini dikenal di hampir seluruh dunia. Di jepang dikenal dengan “jan-ken-pon”. Sedangkan di Indonesia selain dikenal dengan “batu-gunting-kertas”, ada pula versi lainnya yaitu “suwit” yang disimbolkan ibu jari sebagai gajah, telunjuk sebagai manusia dan kelingking sebagai semut.
Baik Rock-Paper-Scissors, jan-ken-pon, batu-gunting-kertas ataupun suwit, sama-sama hanya memiliki tiga kemungkinan. Jika anda menonton serial tv “The Big Bang Theory” season 2 episode 8, disitu ditunjukkan pengembangan dari permainan ini. Permainan yang dikembangkan oleh Sam Kass dan Karen Bryla ini adalah “Rock Paper Scissors Lizard Spock”. Yaitu dengan menambahkan 2 karakter lagi (lizard dan spock) sehingga menjadi 5 karakter. Dengan lima karakter ini akan lebih kecil kemungkinan menemui hasil imbang, jika dibandingkan dengan hanya menggunakan 3 karakter.
Jika dulu aturannya hanya “gunting memotong kertas menutupi batu menghancurkan gunting“, maka sekarang menjadi “gunting memotong kertas menutupi batu meremukkan kadal meracuni spock meremukkan gunting memenggal kadal memakan kertas membantah spock melenyapkan batu menghancurkan gunting“. Bisa anda bayangkan betapa lebih kompleksnya bila dibandingkan dengan versi sebelumnya. Bila masih belum mengerti, mari kita simak penjelasan dan peragaan yang disampaikan oleh Dr. Sheldon Cooper MSc, PhD dan Rajesh Koothrappali, PhD berikut :
Karena kepopuleran permainan ini di kalangan “geek”, maka dibuat desain kaosnya. Jika anda ingin memiliknya bisa beli di sini dan di sini. Sedangkan untuk anda para “geek” yang ingin mencoba dan tidak memiliki partner untuk memainkannya, anda bisa bermain game-flash di bawah ini :







“Halah nux, buat apa baca buku ginian? Buku terjemahan gini paling isinya ga jelas. Ntar pasti ada beda budaya yang tidak bisa diinterpretasikan dengan sempurna. Lagian dari judulnya aja udah keliatan ‘jual nama agama’ banget. Paling cuma sejenis roman picisan dari timur tengah.”
Peristiwa yang kedua juga saya alami dengan Linux. Waktu itu dia sedang memilih buku “5cm” karya Dony Dhirgantoro. Dia mengambil buku dengan sampul hitam legam itu. Di sampul depannya ada beberapa tulisan yang fontnya juga hitam dan di bagian tengah sampul depannya ada juga tulisan “5cm” dengan font yang agak besar berwarna putih. Dia bilang, “keren juga nih, covernya elegan…”. Dan dengan cepat saya mengambil buku itu dari tumpukan yang lainnya sambil biang, “walah nux, keren dari mana? justru yang tampilannya sok misterius kayak gini ini biasanya isinya ga jelas. Lagian masak cuma “5cm”? punyaku lebih dari itu kali…. (sambil melihat ke %^%&). Dan kami pun meletakkannya kembali sambil tertawa… hahaha…
